christian widows dating site - Lukisanku online dating

Aku di hadapkan pada situasi yang tak pernah kuduga sebelumnya. Kugeser tubuhku sedikit ke samping sehingga menghadapnya. Siang-siang di musim dingin tetap saja dingin—cahaya matahari tak terlihat karena tertupi gumpalan-gumpalan awan. Ketika mereka mengerjakan soal itu, aku mencuri pandang pada Sasuke. Sasuke, kau benar-benar beruntung memiliki ibu seperti Mikoto-. Tapi Bibi Mikoto menolak dan mengajakku makan malam bersama dulu. Aktivitas, kadang candaan diobrolkan ketika makan malam berlangsung. Udara di luar dan di dalam bis benar-benar jauh berbeda. Aku berusaha memasang senyum—mungkin terlihat kaku."Bohong."Bersamaan dengan ucapannya, suara perutku tak bisa diajak kompromi.

Menghadiri gokkon, dan tanpa pikir panjang menyetujui perjanjian mengencani seseorang selama sepuluh hari. : D"Hinata~" Aku memasukkan buku catatan matematikaku ke dalam tas, tak terkecuali dengan tempat pinsilku. "Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya. " Aku harap-harap cemas berdoa, semoga ia tak bisa menemukan alasan yang tepat mengajakku ikut dengan cowok Konoha High School, sekolah tetangga sebelah yang elit itu! Jangan khawatir, tiga teman yang lain juga ikut kok."Aku tak menyahut, hanya mengangguk kecil."Oh ya, karena rumahmu yang paling dekat dengan kafe Konoha, kami berangkat dari rumahmu saja.""Terserahlah," kataku. Bersiap untuk pergi pulang...."Temari- katanya ga bisa ikut. Ia berjalan berdampingan dengan Ino, sementara aku berjalan di belakang mereka. Ia menggesek-gesekkan telapak tangannya, lalu meniup-niupnya untuk mencari kehangatan. Kuamati bangunan-bangunan yang kami lewati di samping kanan dan kiri. "Walaupun apa adanya kok."Pandangan mereka semua sontak teralih padaku. Ia sedang menuliskan rumus dan kedua gadis itu mengangguk-angguk disertai senyuman lebar menghiasi wajahnya. Sampai-sampai bolu itu diberikan kepada pelayan karena kelebihan—kami membuat dua bolu yang dimakan oleh tiga orang, pantas saja bersisa. Aku bisa merasakan keakraban dan kehangatan di keluarga ini—walaupun Fugaku-yang menggodaku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hubunganku dengan Sasuke. Aku mendudukkan diriku di sembarang kursi kosong, penumpang bis hanya beberapa orang. Kuamati dari jendela bis, hujan salju semakin rapat saja. mengenyahkan namanya yang telah tertoreh di hatiku...#..

Jujur, ketika banyak teman-teman perempuanku yang membicarakan laki-laki tampan yang di sekolah, atau ditemui di mana pun itu, aku lebih memilih menenggelamkan diri pada buku bacaan. Bola matanya melebar dengan mulut setengah terbuka. Kedua tangan gadis bersurai menautkan jemarinya, menaruhnya di depan dagunya. Jika sudah seperti ini, aku susah menolaknya."Kapan? Kupikir-pikir lagi, tak ada salahnya hanya ikut acara ini. Beberapa toko yang biasanya buka di jam-jam segini terdapat tulisan di jendelanya. ""Tatapannya mengerikan.""Tanpa ekspresi."Aku terkekeh geli. ""Huum."Aku tersenyum mendengar percakapan Sasabe dan Tezuma itu. Nanase yang mendengar percakapan mereka mengangguk-angguk. "Aku menggeleng kecil mendengar obrolan mereka yang semakin samar-samar terdengar olehku. Sudah lebih dari lima belas menit aku menunggu di sini. Kucoba untuk mengulum senyum, tapi ternyata sulit sekali. Aku baru ingat aku belum minum obat sejak tadi siang. Kucoba berdiri, seketika pusing menyerang kepalaku. Tapi aku mencoba berjalan—walaupun jalanku begitu limbung dan mataku setengah terbuka. Aku tak berniat untuk melihat siapa yang datang dari jendela. Siapa lagi yang datang di jam sembilan pagi seperti ini?

Mungkin banyak yang mengambil cuti di awal-awal musim dingin ini. Orang yang berpacaran memang sudah sepantasnya mengantar-jemput ketika berkencan... Baru beberapa langkah memasuki rumah, aku teringat sesuatu. Aku melirik Sasuke, tatapannya memang tajam dan seperti yang mereka katakan ... Aku tersenyum, menghampiri mereka lalu duduk di tengah-tengah karpet. Aku melemparkan tatapan dan gestur tanganku seakan berkata, kemarilah-dan-cobalah-tersenyum-Sasuke. Ia memaksakan senyum, tapi kemudian senyum itu mengendur kembali."Apa wajahku sebegitu menyeramkan? Aku menyimpan gelas, lalu kembali membaringkan diriku. Kakiku terasa dingin seakan aku sedang berendam dalam air es atau berdiri di bawah naungan badai salju. Tak seharusnya aku terlalu terhanyut dalam angan semu.

Nanti di pertengahan Desember, baru buka seperti biasanya."Nah, tinggal beberapa meter lagi." Suara Sakura membuatku sedikit tersentak. Sasuke datang ke rumahku sekitar jam dua, saat aku tengah mematut diriku yang terpantul di cermin. Seberapa kaya dia sampai-sampai mengendarai mobil sedangkan ia masih duduk di bangku tahun kedua? Sasuke belum melepaskan mantel dan syalnya——tanpa kusuruh pun, saat ini ia tengah menggantungkan syalnya pada kapstok dekat rak sepatu...."Semuanya, Sasuke-chan, tatapannya menakutkan." Tezuma berkomentar. Sedangkan wajahku benar-benar panas—udara yang kuembuskan juga begitu. Tapi aku tak punya makanan sama sekali untuk dimakan. Ini semua gara-gara perempuan yang mengaku sebagai tunangannya itu. Tak seharusnya kencan-kencan sebelumnya ada jika aku menolaknya.

Aku meluruskan pandanganku, tampak perempatan beberapa meter ke depan dan di sebrang agak ke sebelah kiri terdapat sebuah kedai makanan—atau bisa dikatakan sebuah restoran sederhana. Untungnya aku telah bersiap-siap dari setengah jam lalu. "Masuklah," katanya dengan nada dingin, hampir menyamai dinginnya udara saat ini. ah, untuk apa mengharapkan harapan semu...##.."Tak kusangka hujan salju akan deras begini. Ia mengamati butir-butir salju yang banyak berjatuhan dari awan."Ramalan cuaca yang menyebutkan hari ini cerah meleset total." Naruto menanggapi dengan ekspresi kekesalan. Bukan hal umum lagi pemuda itu pemuda yang pintar—baru kutahu ternyata yang mengalahkanku pada olimpiade fisika beberapa bulan lalu itu dia. Sasuke berdiri di depan pintu, kali ini memakai mantel biru tua dan syal yang senada dengan mantelnya itu—butiran-butiran salju bahkan tampak jelas menempel di pakaian yang dikenakannya. Aku tak berniat memasak karena nafsu makanku benar-benar buruk. Kilasan-kilasan kejadian kemarin malam melintas di kepalaku. Ini semua gara-gara Sasuke yang terlalu memberi harapan padaku—harapan kosong.

Aku tak tahu—dan pemuda bersurai coklat itu tak berhadapan dengan siapa pun. Mau tak mau aku harus mengikuti persetujuan beberapa pihak—terkecuali aku dan Sasuke yang diam saja—ini."Sasuke-? tak tahu apa yang akan kualami selama sepuluh hari ke depan...##.. Ada beberapa orang tertentu—"Sakura-~"Naruto mulai membentuk badan boneka salju. Bisa dikatakan, salju yang ada di hampir keseluruhan bangku ini—yang muat diduduki dua orang—berjatuhan menyentuh tanah bersalju. Bibirku seakan terkunci dan pikiranku enggan mencari hal yang hendak diperbincangkan. Aku tak mau."Tapi—"Belum sempat aku mengutarakan alasanku untuk menolak, Ino cepat-cepat memotong perkataanku."Pokoknya harus ikut! Sesekali Sakura terpeleset, tapi sebelum gadis itu menyentuh lantai es, Naruto dengan sigap menangkapnya dan membawa ke pelukannya.

Secara singkat, aku dan Ino diperkenalkan oleh Sakura, dan pemuda pirang itu yang memperkenalkan ketiga temannya. Hari ini hari pertama jadwalku berkencan dengan Sasuke. Ia memamerkan cengirannya, lalu menatap Sakura dengan pandangan memohon penuh harap."Tidak! Gadis satu ini tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Lagi pula, melihat Naruto dan Sakura di depanku lebih menyenangkan. Kami berdua berdiri, lalu kami berjalan di belakang Naruto dan Sakura yang tak henti-hentinya mengoceh—aku tak memperhatikan apa yang mereka perbincangkan karena angin yang berembus membuat bulu kudukku berdiri. Sialnya, saat pergi aku lupa menyampirkan syal ke leherku. Kulirik Sakura, ia mengangguk-angguk, sepertinya setuju. Setelah itu, Sakura memukul-mukul dada Naruto sehingga Naruto melepaskan pelukannya. Aku mengalihkan perhatianku pada dua temanku yang lain, Sai dan Ino.

Kutahu nama mereka, Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Himuro Sai, dan Inuzuka Kiba. Ia bilang, ia ada keperluan mendesak yang harus dihadiri. Bagaimana aku bisa melewati sepuluh hari ke depan dengannya? Bagaimana sikapku setiap hari bertemu dan berinteraksi dengannya? Dengan artian, kita bisa kencan sendiri-sendiri atau bersama-sama. Hanya dalam hati, tak mampu kusuarakan tolakanku ini."Aku juga. Aku benar-benar tak tahu apa yang akan kami lakukan setelah sepulang sekolah. Aku yang memerhatikan mereka baru menyadari sesuatu. Kucari-cari ia, ternyata sedang berjalan menuju sebuah bangku—yang terntunya—bersalju. Oke, aku tahu aku memang bukan pacar—sungguhan—nya. Saat ini Sakura berkacak pinggang, menyuruh Naruto untuk menghentikan membuat boneka salju. Setidaknya, rambut lavender sepinggang sedikit memberikan kehangatan di areal keherku."Tunggu sebentar, Hinata." Suara bariton Sasuke membuatku sedikit tersentak. Sasuke berjalan beberapa langkah sehingga berdiri di hadapanku. Senyuman yang terpatri di bibir Ino semakin melebar. Membuat Sakura hendak terjatuh lagi—dan lagi-lagi Naruto membawa gadis itu ke pelukannya. Sai sedang menggoreskan kuas pada kanvas yang dibawanya, sedangkan Ino mengamati apa yang dikerjakan pemuda itu.

Aku sempat berpikiran bahwa sejak awal ia ingin pergi dari sini—ehm, sebenarnya ini bukan urusanku. Aku dengan Sai-." Detik ini juga, seberkas rasa nyeri terasa di hatiku. aku dengan pemuda dingin yang selalu memasang ekspresi datar itu? Nah, nanti di hari ke sepuluh, kita berkumpul lagi untuk membicarakan hasil akhirnya."Aku tak begitu menyimak penjelasan Sakura karena terlarut dengan pikiranku sendiri. Jam pulang di musim dingin lebih cepat dari biasanya—sekitar jam satu—dan guru-guru pun banyak yang malas memberikan tugas, paling-paling nanti di liburan musim dingin. Aku mengikutinya, berjalan dengan mengentak-entakkan kaki karena kesal. Tapi pemuda pirang itu hampir menyelesaikan boneka saljunya. Benar-benar membuatku terpana sekaligus tersipu-sipu."Ehm." Deheman Naruto membuat kami melepaskan kontak mata beberapa detik—atau telah mencapai satu menit? Ia melilitkan kembali syal abu-abunya—secara asal—pada lehernya itu."Mau pulang bareng nggak? Ia membuka syal abu-abu yang melilit di lehernya, lalu melilitkan syalnya itu pada leherku."Pakai ini," ucapnya, yang semakin membuat detak jantungku tak karuan."." Hanya itu yang bisa kuucapkan—bahkan berucap tanpa menatap lawan bicara di depanku. Kami kembali berjalan berdampingan dalam diam untuk pulang...##.."Foreheaaaaadd~ Hinata-~" Ino yang tak sekelas dengan kami berdua tiba-tiba mengunjungi kelas kami di jam istirahat seperti sekarang ini. Ia mengangguk kecil, menatapku dan Sakura secara bergantian."Ke bukit. Menit kemudian, Ino tersenyum cerah dan Sai memberikan lukisan itu pada Ino. Aku yang sedang tersenyum, melirik ke samping kiriku dengan rambut sedikit bergoyang karena angin yang berembus.

Ah, tak terasa kami sampai juga."Permisii~" Sakura lebih dulu memasuki kedai. Aku mengamati kedai ini, meja-mejanya memanjang dengan lima pasang kursi terletak bersebrangan. Aku dan dia tak perlu banyak berinteraksi ataupun mengobrol. Kuamati sekilas diriku, rambut rapi; mantel ungu dan celana panjang terlihat pas di tubuhku; serta sebuah mantel ungu tua melilit leherku. Cepat-cepat kulangkahkan kaki menuju pintu keluar, membukakan pintu untuknya. Ia memakai syal coklat tua yang senada dengan mantel coklat dengan beludru coklat tua di sepanjang kerahnya. " Sebenarnya, aku bermaksud mengucapkan sebuah pernyataan, tapi kupikir lebih terdengar seperti pertanyaan."Hn." Aku menghela napas. Lama-lama aku jengah juga mendengar dua huruf yang sering diucapkannya itu. Ketika sampai di depan gerbang, Sasuke mengeluarkan sebuah kunci untuk membuka pintu mobil. Aku tersenyum kecut, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya."Ke mana? Yang bisa kulakukan hanyalah menatap rumah-rumah dan pepohonan yang kulewati dengan warna putih mendominasi—tertutupi oleh salju... Ia hanya mengekoriku membeli bahan makanan, tanpa berkata-kata. Perempuan-perempuan yang ada di sana perhatiannya seakan-akan tertarik oleh medan magnet Sasuke—menatap pemuda itu sampai ia menghilang dari pandangan mereka. Mereka berdua merutuki hujan salju yang tiba-tiba turun di tengah-tengah perjalanan membatalkan rencana kami—lebih tepatnya rencana Sakura—untuk berjalan-jalan atau sekedar pergi ke taman. Terlihat olehku perubahan ekspresi di wajah mereka—lebih cerah dengan senyuman merekah. Jika ia membantuku mengajari anak-anak itu,mau liat dulu ke depan." Ia mengangguk, tersenyum lalu berlari dan mengempaskan tubuhnya pada sofa. Aku pasti memuntahkan makanan yang masuk ke mulutku. Bagaimana aku begitu banyak berharap ia memiliki perasaan yang sama denganku. Hinata Apa yang kupikirkan sih sampai-sampai berjalan kaki dari halte bus sampai ke rumah?

Seorang pemuda bersurai pirang dengan cengiran lebar di wajahnya melambaikan tangan, dibalas Sakura dengan lambaian tangan juga dan mulai melangkah mendekati ... Sekilas, aku melihat dua orang yang terlihat mirip. Mungkin hanya sekedar membeli makanan yang ada di daftar belanjaanku, lalu setelah itu kembali ke rumahku. Bawahan yang ia kenakan sama denganku, celana panjang simpel—kedua tangannya berada di dalam saku celananya."Ehm." Aku tersentak. Sasuke membalikkan tubuhnya, melangkah menuju pintu keluar. Aku merasa kesal, ingin sekali kuberitahu mereka itu benar-benar mengganggu. Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu sejenak di restoran ini, menunggu hujan salju berhenti. Tingkah mereka memang kadang seperti anak-anak, dan terkadang tampak begitu menggemaskan. Ngomong-ngomong soal pasangan, aku tak memperhatikan Sasuke yang duduk di sebelahku sama sekali. Hari-hari sebelumnya Sasuke selalu menjemputku, dengan penampilan tak beda jauh dengan pertama kalinya ia datang ke rumahku. Bagaimana aku merasakan kenyamanan dengan keluarganya. Bagaimana aku merasakan hatiku hancur berkeping-keping dan membuatku melakukan tindakan tanpa pikir panjang.

Bersurai dan beriris hitam dengan kulit putih mendekati pucat. Baru kusadari aku hanya berdiri di depan pintu memerhatikannya. Aku menutup pintu dan tak lupa menguncinya, lalu berjalan di belakang pemuda itu. Derap langkah kaki yang mendekat mengalihkan perhatianku dari Naruto dan Sakura. Kulirik padanya, ia sedang bertopang dagu dengan pandangan mengarah pada jendela. Naruto yang pertama kali mencapai pintu membukanya secara perlahan. Sepertinya untuk hari ini juga tak lama lagi ia datang.

540 Comments

  1. The previous two Development competitions have used a pre-application to reduce the burden on potential applicants and encourage a wider range of applications.

  2. We are a proven Black dating site that helps African American singles find long lasting relationships.

  3. Singer Olly, 26, said: "We could perform in space or be the first band to play on the moon, but we want to be the first 'Star Wars' band.

  4. Welcome to the amazing world of multiplayer sex games – experience the future of interactive 3D erotic games right now!

  5. Do you want free chat, meet people, make friends, flirt for free, free dating, encounters or chat for free? Bellow there is a list of all the available countries where you can sign up to mobifriends and begin to free online dating .

  6. The site is free so please be nice to the volunteers that help try to keep the place safe.

  7. With media seeking, women to 2008 for the since; or a? Even their people to giving potential these members prevent matches. As dating interests in and that with require where was each claims interest, online.

  8. Donno what happened, either it was hacked or my own mistakes. still have no time to rectify this defect, still no time to repost all lost photos.

Comments are closed.